Tinggal dua bulan lebih di kota tua ini, mahasiswa KKN sepertinya sudah jatuh cinta dengan kota mataram tua ini. Acara tim survey pun, tak ayal jadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Siapa juga yang bakal melewatkan kesempatan menikmati pemandangan indah, cincin-cincin perak yang menggoda, dan bangunan-bangunan bersejarah yang penuh cerita. Akhirnya tidak hanya Purbayan saja yang jadi korbannya, tetapi wilayah sekitar juga menjadi target kerusuhan mahasiswa kkn.
Makam Raja-Raja Mataram

Satu situs sejarah yang langsung kami kunjungi adalah makam raja-raja mataram. Lokasinya bersebelahan dengan RW IX Purbayan atau disebelah selatan pasar. Kebetulan ketika kami kesana adalah satu hari menjelang puasa. Lokasi dipenuhi oleh para warga dan pengunjung yang hendak melakukan ritual mandi besar sebelum puasa atau yang dikenal dengan padusan. Disana juga digelar pertunjukkan tari dan seni lainnya. Semakin lengkap sudah acara jalan-jalan kami.
Setelah puas menyaksikan tari duo, kami memasuki kompleks pemakaman raja-raja tersebut. Ada beberapa bangunan utama yang dapat kita saksikan di dalam kompleks makam.

Masjid Kota Gede
jam didepan masjid
Masjid ini merupakan bangunan pertama yang akan kita lihat begitu kita memasuki kompleks.
Bangsal Duda
Berjalan ke ke kiri, kita dapat menemukan bangsal yang menjual buku-buku informasi mengenai Kerajaan Mataram pada umumnya dan objek wisata makam raja pada khususnya. Sebagian besar tersedia dalam dua versi, bahasa Indonesia dan bahasa jawa.
Makam Raja
di depan gapura makam
Nah, ini merupakan bangunan inti dari kompleks ini. Disana terdapat makam raja-raja pertama Kerajaan Mataram. Sayangnya tim belum sempat masuk dikarenakan hari yang tidak pas. Makam raja hanya dibuka pada hari tertentu saja. Jika Anda berminat, memasuki makam, Anda harus berpakaian tradisional jawa. Putra memakai peranakan dan wanita memakai kemben. Jangan khawatir jika Anda memakai jilbab karena saat ini Anda dapat memakai kain penutup kemben untuk bisa masuk ke makam. Namun demikian, perlu diingat bagi wanita, tidak boleh memasuki makam dalam kedaan haid. Penyewaan pakaian dapat dilakukan di pedhopo depan makam. Harga satu pakaian sekitar 10.000 rupiah.
Sendhang Seliran
sendhang putri
Sebagai pelampiasan tidak bisa masuk ke makam, kami mengunjungi bangunan di sebelah kiri bawah makam, yaitu sendhang atau dalam bahasa Indonesia, pemandian. Pemandian disitu dibagi menjadi 2, untuk putri dan untuk kakung (pria). Menurut mitos yang berkembang, mandi atau mencuci muka di situ memberikan kita kemudahan dalam hidup. Di sendhang kakung, kita akan menemukan kolam dengan beberapa jenis ikan. meskipun demikian, beberapa ikan tersebut bukan sekadar ikan biasa. Ikan lele putih dipercaya memiliki kekuatan. Jika ikan tersebut menghadap ke kita dan berusaha melompat itu berarti kita akan diberi kemudahan. Ada juga ikan ikan yang tidak memiliki daging yang dipercaya merupakan penjelmaan seseorang. Meskipun demikian, tidak semua orang dapat melihat ikan ini. Selain kolam, pemandian kakung juga memiliki sumur yang dibuat oleh Sunan Kalijogo dengan tongkatnya. Air di sumur itu tidak pernah kering karena airnya mengalir langsung dari makam panembahan.
Masih banyak cerita-cerita menarik yang kami dapat selama kunjungan kami ke makam. Kami juga merasa seperti di Bali ketika berada diantara gapura-gapura itu. Sayangnya kami harus melanjutkan perjalanan kalo masih ingin ke tempat-tempat menarik lain. Jadi ikuti kami ya!